Ber-haji Tanpa Ke Tanah Suci

.
0 komentar

Sejatinya, nilai-nilai kemanusiaan di atas bersemai dalam setiap denyut kehidupan, meskipun tidak berangkat ke tanah suci. Substansi ibadah haji lebih dilihat sebagai titik strategis tanpa menanggalkan hukum wajib haji itu sendiri. Karena artikulasi nilai-nilai yang disimpulkan tadi, kontras dengan kecendrungan peremehan atas realitas kemiskinan di sekeliling kita. Sepertinya ada sesuatu yang terpisah antara agama sebagai gugusan nilai yang bersifat ideal-normatif dan kenyataan empirik berupa nestapa kemanusiaan yang terus terjadi.



Ada cerita sufi menarik yang diintrodusir oleh Cak Nur (1990), berkaitan dengan haji mabrur. Satu saat, lanjut Cak Nur, ada sepasang suami-isteri yang dikenal sangat taat beribadah dan mempunyai cukup bekal untuk melakukan ibadah haji. Hanya karena kebiasaan dia menolong sesama kaum yang lemah (mustadh’afin), ketika bertemu dengan orang yang kelaparan, maka diberikanlah bekal yang seadanya tadi dan setelah itu pulang kembali ke kampungnya.



Sesampainya di rumah, keduanya dikejutkan oleh orang yang berjubah putih –menurut riwayatnya mereka itu malaikat-- yang langsung menyalaminya. Dengan kaget mereka berkata, “kami tidak jadi hajinya”. Penyambut tadi menjawab, “kalian sudah jadi haji mabrur, karena tadi telah menyantuni orang meski tidak berangkat ke tanah suci”.



Dalam konteks ini, mengajak kita sadar akan pesan suatu ibadah dan tidak terjebak pada formalitasnya semata. Dengan pengamalan semua nilai-nilai luhur ibadah haji, yakni kemanusiaan universal, nestapa kemanusiaan yang melilit negeri ini sepertinya dapat diselesaikan. Salah satu sebab terjadinya kemiskinan, adalah kurangnya penghayatan dimensi sosial ibadah karena kekeliruan cara pandang pandang kita. Tanpa perubahan cara pandang keberagamaan (baca: ibadah haji dan haji mabrur), pengentasan kemiskinan jauh panggang daripada api.



Pemikiran ini didasarkan pada kedudukan agama sebagai gugusan nilai yang bisa membentuk struktur masyarakat yang adil dan beradab. Islam, seperti diidamkan oleh Kuntowijoyo (1998), sebagai agama yang mempunyai lanskip teosentris-humanisme. Seorang muslim tidak saja bersaksi akan adanya Tuhan dan Nabi, tapi selalu menyuguhkan aksi konkrit untuk kemanusiaan universal. Ia bagaikan dua mata koin yang tidak bisa dipisahkan satu dari yang lainnya.



Dalam tranformasi sosial, seperti keyakinan Farid Essak (1990), pembebas kulit hitam di Afsel semasa rezim apartheit, Islam dapat mendorong pemeluknya jadi agen terdepan dalam melepaskan belenggu komunitas yang secara sosial, ekonomi, politik dan budaya telah tertindas (mustadh’afin) karena ulah sekelompok elit dan sistem yang mengitarinya. Peran agama tidak hanya membentuk mental yang sadar akan “kekuasaan kosmis”, tapi bisa menyelami problem kemanusiaan yang bermunculan di sekelilingnya. Ini memang sulit, memerlukan latihan dan komitmen yang tinggi.



Walhasil, dimensi sosial haji mabrur semestinya dapat menjinakkan ego pribadi yang terlalu mencintai hartanya dibandingkan penghormatan kepada kemanusiaan universal yang menjadi inti dari ibadah haji itu sendiri. Dan itu menjadi pesan penting yang harus diamalkan oleh orang yang akan dan telah melakukan haji. Janganlah berkecil hati untuk mencapai derajat haji mabrur, meskipun belum mampu menunaikan ibadah haji. Wa Allâh a’lam bishshawâb.

Sumber :
Ditulis Oleh Muhtar Sadili.

Klik disini untuk melanjutkan »»

SYUKUR (Pujian, Terima kasih)

.
0 komentar

Kata syukur (شُكُوْر) adalah bentuk mashdar dari kata kerja syakara - yasykuru- syukran - wa syukuran - wa syukranan (شَكَرَ - يَشْكُرُ - شُكْرًا - وَشُكُوْرًا - وَشُكْرَانًا). Kata kerja ini berakar dengan huruf-huruf syin (شِيْن), kaf (كَاف), dan ra’ (رَاء), yang mengandung makna antara lain ‘pujian atas kebaikan’ dan ‘penuhnya sesuatu’.



Menurut Ibnu Faris bahwa kata syukur memiliki empat makna dasar. Pertama, pujian karena adanya kebaikan yang diperoleh, yakni merasa ridha dan puas sekalipun hanya sedikit, di dalam hal ini para pakar bahasa menggunakan kata syukur untuk kuda yang gemuk namun hanya membutuhkan sedikit rumput. Kedua, kepenuhan dan ketabahan, seperti pohon yang tumbuh subur dilukiskan dengan kalimat شَكَرَةُ الشَّجَرَة (syakarat asy-syajarah). Ketiga, sesuatu yang tumbuh di tangkai pohon (parasit). Keempat, pernikahan atau alat kelamin. Dari keempat makna ini, M. Quraish Shihab menganalisis bahwa kedua makna terakhir dapat dikembalikan dasar pengertiannya kepada kedua makna terdahulu. Yakni, makna ketiga sejalan dengan makna pertama yang menggambarkan kepuasan dengan yang sedikit sekalipun, sedangkan makna keempat sejalan dengan makna kedua karena dengan pernikahan atau alat kelamin dapat melahirkan anak. Dengan demikian, makna-makna dasar tersebut dapat diartikan sebagai penyebab dan dampaknya sehingga kata syukur (شُكُوْر) mengisyaratkan, “Siapa yang merasa puas dengan yang sedikit maka ia akan memperoleh banyak, lebat, dan subur”.



Al-Asfahani menyatakan bahwa kata syukur mengandung arti ‘gambaran di dalam benak tentang nikmat dan menampakkannya ke permukaan’. Pengertian ini diambil dari asal kata syukur (شُكُوْر) --seperti dikemukakan di atas-- yakni kata syakara (شَكَرَ), yang berarti ‘membuka’ sehingga ia merupakan lawan dari kata kafara/kufur (كَفَرَ\كُفُوْر), yang berarti ‘menutup’, atau ‘melupakan nikmat dan menutup-nutupinya’. Jadi, membuka atau menampakkan nikmat Allah antara lain di dalam bentuk memberi sebahagian dari nikmat itu kepada orang lain, sedangkan menutupinya adalah dengan bersifat kikir.



Kata syukur (شُكُوْر) di dalam berbagai bentuknya ditemukan sebanyak 75 kali tersebar di dalam berbagai ayat dan surat di dalam Alquran. Kata syukuran (شُكُوْرًا) sendiri disebutakan hanya dua kali, yakni pada S. Al-Furqan (25): 62 dan S. Al-Insan (76): 9.



Kata syukuran (شُكُوْرًا) yang pertama digunakan ketika Allah Swt. menggambarkan bahwa Allah yang telah menciptakan malam dan siang silih berganti. Keadaan silih berganti itu menjadi pelajaran bagi orang-orang yang ingin mengambil pelajaran dan ingin bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah. Di dalam menafsirkan ayat ini, Ibnu Kasir berpendapat bahwa Allah Yang Mahasuci menjadikan malam dan siang silih berganti dan kejar-mengejar, yang kesemuanya itu adalah tanda-tanda kekuasaan Allah yang hedaknya direnungkan dan diperhatikan oleh orang-orang yang ingat kepada-Nya atau yang hendak bersyukur kepada-Nya.



Kata syukuran (شُكُوْرًا) kedua yang terdapat di dalam S. Al-Insan (76): 9 digunakan oleh Alquran ketika Allah menggambarkan pernyataan orang-orang yang berbuat kebajikan serta telah memberi makan kepada orang-orang fakir dan miskin yang tiada lain yang mereka harapkan kecuali keridaan Allah Swt; dan mereka tidak akan pernah mengharapkan dari mereka yang diberi itu balasan serta ucapan terimakasih atas pemberian itu. M. Quraish Shihab menukilkan bahwa adalah Ali bin Abi Talib dan istrinya, Fatimah, putri Rasulullah Saw. memberikan makanan yang mereka rencanakan menjadi makanan berbuka puasa kepada tiga orang yang membutuhkan, dan ketika itu mereka membaca ayat di atas. Karena itu, dari sini dipahami bahwa manusia yang meneladani Allah di dalam sifat-sifat-Nya dan mencapai peringkat terpuji adalah yang memberi tanpa menanti syukur; di dalam arti, balasan dari yang diberi, atau ucapan terimakasih.



Kalau kata syakara (شَكَرَ) merupakan antonim dari kata kafara (كَفَرَ) maka bentukan dari kedua kata ini pun sering diperhadapkan di dalam Alquran, antara lain pada S. Ibrahim (14): 7. Jadi, hakikat syukur adalah “menampakkan nikmat”, sedangkan hakikat kufur adalah “menyembunyikan nikmat”. Menampakkan nikmat antara lain berarti menggunakannya pada tempatnya dan sesuai dengan yang dikehendaki oleh pemberinya. Di samping itu, berarti juga menyebut-nyebut nikmat serta pemberinya dengan lidah (S. Adh-Dhuha [93]: 11). Demikian pula pada S. Al-Baqarah (2): 152. Para mufasir menjelaskan bahwa ayat yang disebut terakhir ini mengandung perintah untuk mengingat Allah tanpa melupakannya, patuh kepada-Nya tanpa menodainya dengan kedurhakaan. Syukur yang demikian lahir dari keikhlasan kepada-Nya. Di dalam kaitan ini, M. Quraish Shihab menegaskan bahwa syukur mencakup tiga sisi. Pertama, syukur dengan hati, yakni kepuasaan batin atas anugerah. Kedua, syukur dengan lidah, yakni dengan mengakui anugerah dan memuji pemberinya. Ketiga, syukur dengan perbuatan, yakni dengan memanfaatkan anugerah yang diperoleh sesuai dengan tujuan penganugerahannya.



Kata syukur (شُكُوْر) juga berarti ‘puji’; dan bila dicermati makna syukur dari segi pujian maka kiranya dapat disadari bahwa pujian terhadap yang terpuji baru menjadi wajar bila yang terpuji melakukan sesuatu yang baik secara sadar dan tidak terpaksa. Dengan begitu, setiap yang baik yang lahir di alam raya ini adalah atas izin dan perkenan Allah. Apa yang baik dari kita, pada hakikatnya adalah dari Allah semata; jika demikian, pujian apapun yang kita sampaikan kepada pihak lain, akhirnya kembali kepada Allah jua. Jadi, pada prinsipnya segala bentuk pujian (kesyukuran) harus ditujukan kepada Allah Swt. Di dalam hal ini, Alquran memerintahkan umat Islam untuk bersyukur setelah menyebut beberapa nikmat-Nya (S. Al-Baqarah [2]:152 dan S. Luqman [31]: 12. Itu sebabnya kita diajarkan oleh Allah untuk mengucapkan “Alhamdulillah” (اَلْحَمْدُ ِلله), di dalam arti ‘segala puji (hanya) tertuju kepada Allah’. Namun, ini bukan berarti bahwa kita dilarang bersyukur kepada mereka yang menjadi perantara kehadiran nikmat Allah. Misalnya, Alquran secara tegas memerintahkan agar mensyukuri Allah dan mensyukuri kedua orang, yang menjadi perantara kehadiran kita di pentas dunia ini (S. Luqman [31]: 14).



Pada sisi lain, Alquran secara tegas menyatakan bahwa manfaat syukur kembali kepada orang yang bersyukur, sedangkan Allah sama sekali tidak memperoleh, bahkan tidak membutuhkan sedikit pun dari syukur makhluk-Nya (S. An-Naml [27]: 40). Akan tetapi, karena kemurahan Allah, Dia menyatakan diri-Nya sebagai Syakirun ‘Alim (شَاكِرٌ عَلِيْمٌ) di dalam S. Al-Baqarah (2): 158 dan Syakiran ‘Alima (شَاكِرًا عَلِيْمًا) di dalam S. An-Nisa’ (4): 147, yang keduanya berarti ‘Maha Bersyukur lagi Maha Mengetahui’; di dalam arti, Allah akan menganugerahkan tambahan nikmat berlipat ganda kepada makhluk yang bersyukur. Demikian M. Quraish Shihab.



Di dalam Alquran, selain kata syukur (شُكُوْر) ditemukan juga kata syakur (شَكُوْر). Kata yang disebut terakhir ini berulang sebanyak sepuluh kali, tiga di antaranya merupakan sifat Allah dan sisanya menjadi sifat manusia. Al-Ghazali mengartikan syakur sebagai sifat Allah adalah bahwa Dia yang memberi balasan banyak terhadap pelaku kebaikan atau ketaatan yang sedikit; Dia yang menganugerahkan kenikmatan yang tidak terbatas waktunya untuk amalan-amalan yang terhitung dengan hari-hari tertentu yang terbatas. Di dalam pada itu, M. Quraish Shihab menegaskan bahwa ada juga hamba-hamba Allah yang syakur, walau tidak banyak, sebagaimana firman-Nya di dalam S. Saba’ (34): 13. Dari sini, tentu saja makna dan kapasitas syakur hamba (manusia) berbeda dengan sifat yang disandang Allah. Manusia yang bersyukur kepada manusia/makhluk lain adalah dia yang memuji kebaikan serta membalasnya dengan sesuatu yang lebih baik atau lebih banyak dari apa yang telah dilakukan oleh yang disyukurinya itu. Syukur yang demikian dapat juga merupakan bagian dari syukur kepada Allah. Sebab, berdasarkan hadis Nabi Saw, “Wa-man lam yasykur an-nas lam yasykur Allah” (وَمَنْ لَمْ يَشْكُرِ النَّاسَ لمَ ْيَشْكُرِ اللهَ = Siapa yang tidak mensyukuri manusia maka dia tidak mensyukuri Allah). (HR. Abu Daud dan At-Turmuzi). Hadis ini antara lain berarti bahwa siapa yang tidak pandai berterimakasih (bersyukur) atas kebaikan manusia maka dia pun tidak akan pandai mensyukuri Allah karena kebaikan orang lain yang diterimanya itu bersumber dari Allah juga. Jadi, syukur manusia kepada Allah dimulai dengan menyadari dari lubuk hatinya yang terdalam betapa besar nikmat dan anugerah-Nya, disertai dengan ketundukan dan kekaguman yang melahirkan rasa cinta kepada-Nya serta dorongan untuk bersyukur dengan lidah dan perbuatan.



Dengan demikian, dapat ditegaskan bahwa kata syukur (شُكُوْر) dan kata-kata yang seakar dengannya di dalam Alquran meliputi makna ‘pujian atas kebaikan’, ‘ucapan terimakasih’, atau ‘menampakkan nikmat Allah ke permukaan’, yang mencakup syukur dengan hati, syukur dengan lidah, dan syukur dengan perbuatan. Di dalam hal ini, syukur juga diartikan sebagai ‘menggunakan anugerah Ilahi sesuai dengan tujuan penganugerahannya’. [Muhammadiyah Amin]

Klik disini untuk melanjutkan »»
 
Namablogkamu is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com